
JAKARTA, Newstime.id — Wakil Sekretaris Jenderal Partai Demokrat Jansen Sitindaon membandingkan keberhasilan Mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono atau SBY dengan Presiden Joko Widodo atau Jokowi.
Bahkan capaian SBY juga dibandingkan dengan Mantan Presiden Megawati Soekarnoputri.
Menanggapi hal itu, Mantan Sekretaris Kementerian BUMN Muhammad Said Didu menyindir melalui akun twitternya.
Menurutnya, semakin dibandingkan semakin akan kelihatan siapa yang menaikkan dan siapa yang menurunkan.
“Semakin mereka bandingkan maka makin kelihatan siapa yang menaikkan dan siapa yg menurunkan,” tulisnya melalui akun sosial medianya, Selasa, (20/9/2022).
Diberitakan sebelumnya, Jansen mempertanyakan letak kegagalan SBY. Dan mengungkit keberhasilannya membawa Indonesia masuk G20 yang saat ini dibanggakan oleh pendukung Presiden Joko Widodo atau Jokowi.
“Bagaimana dikatakan gagal, dibawah pemerintahannya pak SBY berhasil membawa Indonesia masuk G 20, Yg skrg sangat dibanggakan Rezim ini & pendukungnya krn Indonesia lagi dapat giliran jd Presidennya,” ucapnya, melalui akun twitternya, Minggu, (18/9/2022).
“Kalau bukan krn pak SBY memang bisa sekarang pak Jokowi jd Presiden G 20. Hehe,” lanjutnya.
Pria asal Sumatera Utara ini menyarankan kepada para buzzer untuk tidak memposting soal G20, karena merupakan prestasi dunia SBY.
“Jd saranku kpd para buzzer: jika kalian tidak bangga dgn warisan pak SBY soal G20 ini, jgn lagi kalian posting2. Krn itu prestasi dunia SBY. Hehe. Bukan, disisi lain skrg kalian sangat bangga krn Indonesia jd Presiden G20, tapi yg membawa Indonesia kesana: Pak SBY, kalian hina2,” jelasnya.
Lebih jauh kata dia, sejarah telah mencatat di masa SBY ekonomi tumbuh pesat dan PDB Indonesia pertama kali tembus di atas 10.000 Triliun yang kemudian diwariskan kepada Jokowi.
“Itu maka disatu kesempatan saya pernah mengatakan: ‘pak Jokowi bisa membangun dgn gaya itu ya krn warisan sangat sehat dr pak SBY’,” ucap Alumni Universitas Airlangga ini.
Lanjut, dia juga menyindir masa pemerintahan Megawati yang hanya mewariskan APBN Rp400 Triliun kepada SBY. Hingga akhirnya SBY bisa menaikkannya menjadi Rp1.800-2000 Triliun.
“Pak SBY waktu megang pemerintahan thn 2004 itu, warisan APBN dari bu Mega cuma 400 Triliunan. Bisa buat apa coba uang 400 T di Negara sebesar ini? Pelan2 pak SBY benahi, ketika pak SBY turun 2014: APBN sdh diangka 1800 T s/d 2000 Triliun,” tutur Founder Law Firm Jansen Sitindaon & Partners ini.
Belum lagi PDB Indonesia di zaman Megawati kata dia cuman RpRp2.200 Triliun, masa SBY di tahun 2014 menjadi Rp10.000 Triliun.
Begitu pun utang di masa Megawati rasionya dengan PDB 56 persen diturunkan SBY jadi tinggal 25 persen.
Bukan hanya itu, cadangan devisa di era Megawati 2004 cuma Rp36 Milyar USD, waktu pak SBY turun 2014 sudah dinaikkan jadi Rp111 Milyar USD.
Termasuk kemiskinan di zaman Megawati 16,6 persen, diturunkan SBY menjadi 10,9 persen.
“Itu maka ketika pak Jokowi nurunkan jd tinggal 1 digit ya gampanglah,” lanjutnya.
Tak sampai disitu, dia menegaskan di zaman SBY semua angka naik 4 kali lipat. Jika itu bisa dilakukan Jokowi, dia menantang akan mencium kaki Jokowi.
“Kalau pak SBY wariskan APBN 1800 T ke pak Jokowi (naik 4 kali lipat dr zaman bu Mega), jika pak Jokowi jago harusnya 2024 APBN kita diangka 6000 T. Jika itu terjadi saya cium kaki beliau. Itu baru jago,” ucapnya.
“Termasuk semuanya 4 kali lipat. PDB dari warisan pak SBY 10.000 T jadi 40.000 Triliun. Cadangan Devisa dari warisan pak SBY 111 Milyar Dollar USD jadi 400 Milyar Dollar USD. Dan lainnya. Jangan malah utang nanti yg naik jadi 4 kali lipat thn 2024 waktu turun jd: 8000 Triliun,” pungkasnya.




